Penilaian ogoh-ogoh di Banjar Dangin Pangkung dan Banjar Lebah berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Tim juri dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Tabanan hadir secara langsung untuk melakukan penilaian terhadap karya para yowana (pemuda) banjar yang telah berbulan-bulan mempersiapkan ogoh-ogoh terbaik mereka.
Di Banjar Dangin Pangkung, suasana penyambutan berlangsung hangat dan tertib. Ogoh-ogoh yang ditampilkan mengusung tema "Angrebut Maruti". Tim juri dengan saksama menilai berbagai aspek, mulai dari kesesuaian tema dengan nilai-nilai budaya Bali, teknik pengerjaan, kreativitas, hingga kekompakan tim dalam proses pembuatan. Tidak hanya bentuk fisik, narasi atau filosofi yang melatarbelakangi ogoh-ogoh juga menjadi poin penting dalam penilaian.
Selanjutnya, di Banjar Lebah, tim juri disambut dengan semangat yang tak kalah membara. Ogoh-ogoh yang ditampilkan mengusung tema "Bhisama Kepandean" yang menunjukkan karakter yang kuat dengan struktur yang kokoh serta detail ornamen yang berbahan ramah lingkungan. Inovasi pada sistem gerak dan tata cahaya turut menjadi daya tarik tersendiri. Presentasi dari perwakilan pemuda banjar menjelaskan makna simbolis yang terkandung dalam karya tersebut, menggambarkan pesan moral tentang pengendalian diri dan keseimbangan antara bhuta kala dan dharma.
Secara umum, tim juri dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Tabanan memberikan apresiasi atas dedikasi dan kreativitas kedua banjar. Mereka menekankan bahwa penilaian bukan semata-mata mencari pemenang, tetapi juga sebagai bentuk pembinaan dan pelestarian seni tradisi, khususnya dalam menyambut Hari Raya Nyepi. Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong generasi muda untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi identitas masyarakat Bali.
Melalui proses penilaian ini, Banjar Dangin Pangkung dan Banjar Lebah tidak hanya menampilkan karya seni, tetapi juga semangat gotong royong, solidaritas, dan komitmen dalam menjaga warisan budaya leluhur.